pertama-tama mohon maaf bos kalau ada yang tidak berkenan dengan apa yang saya sampaikan disini, kalau ada yang tidak berkenan bisa disampaikan lewat komentar aja!
kayanya sekarang urusan politik tidak hanya menjadi urusan politikus saja, tapi semua orang indonesia sudah pandai berpolitik. Entah orang indonesia sudah pintar-pintarmi semua, atawa politikus kita yang kemampuannya udah merosot sehingga pola pikirnya sama dengan masyarakat umum lainnya. termasuk saya yang mau komentar tentang politik di negeri kita yang tercinta Republik Indonesia.
Karena teman yang lagi tugas hari ini tidak masuk karena ada order MC, jadilah saya menggantikan beliau untuk bertugas merelay salah satu station radio ternama di kota Jakarta yang programnya dipancarkan ulang di radio tempat saya kerja.
pembahasannya cukup unik tapi agak klasik "keterwakilan perempuan dalam pemilu 2009" isinya tentang kuota perempuan yang tidak mencapai 30% dalam pemilu 2009. Yang menarik ada yang om-om nelpon entah dari mana yang meragukan kemampuan perempuan dalam mewakili rakyat.. toweng.. gubrak..
om itu ada benarnya juga, tapi wong kita refleksi dulu nnapa' (kenapa)?, memangnya lelaki yang selama ini menjadi anggota DPR udah maksimal memperjuangkan rakyat.. tidak tongji toh'?
Terus ada lagi yang nelpon tidak setuju kalau perempuan yang jadi anggota DPR, komentarnya kaya gini: "saya tidak setuju kalau perempuan jadi anggota DPR, memangnya dia tidak sayang ama anaknya?, hillari clinton saja kalah sama barrack obama" tut.. tut.. korelasi antara sayang anak, hillari clinton sama barrack obama dimana om...
Kayanya itu om mesti baca sejarah Republik Indonesia dulu deh, om itu mesti belajar tentang perjuangan RA. Kartini, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Cristina M Tiahahu, sampi opu andi tenripadang (istri dari Datu Luwu:Andi Jemma) tapi yang ini ngga ada dalam buku sejarah republik indonesia.. Mereka itukan pejuang wanita yang luar biasa tapi tidak meluapakan kodrat mereka sebagai wanita yang mesti hormat kepada suami dan sayang ama anak..
btw.. menurut saya (kata ini kayanya udah terpakai tadi), tidak jadi masalah perempuan jadi wakil rakyat, yang penting mereka tetap amanah terhadap kepercayaan yang sudah dikasih sama mereka, tetap sadar sama kodratnya sebagai wanita dalam konteks gender.
Ada penelpon yang terakhir dari palopo yang menurut saya komentarnya cukup bagus (bukan nepotisme), katanya " kenapa sih kuotanya mesti 30% inikan diskriminasi, kenapa tidak 100% saja supaya peluangnya sama seperti laki-laki. la wong jumlah perempuan di negara kita (menurut sensus) lebih banyak perempuan"
Wassalam
Senin, November 24, 2008
belajar politik!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar
comment please